aneh-aneh aja
Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam setelah syahadat, shalat, zakat, dan puasa. Tenang, di posting-an ini saya tidak akan berpanjang lebar menuliskan kembali tentang pengertian kata haji (yang bisa dilihat disini), atau latar belakang dan jenis haji (yang bisa dilihat disini), atau soal tetek bengek lainnya yang juga penting (yang bisa dilihat disini).
Hmm, jadi ceritanya beberapa minggu terakhir ini perbincangan di rumah tidak pernah jauh dari kata ‘Haji’; dari mulai cara pendaftarannya (yang ternyata ribet banget), tata caranya, Departemen Agama, sampai dengan berbagai macam cerita/pengalaman saudara/teman/kenalan/kenalannya kenalan ketika sedang berhaji.
Ya, kedua orangtua saya memang berencana naik haji tahun depan-jika Allah mengijinkan..dan jika masih masuk kuota Departemen Agama.
Saya baru tahu kalau mau naik haji itu ribetnya bukan main. Jadi pertama-tama orang yang mau naik haji harus membuka rekening di bank yang ada tabungan hajinya, misal bank BNI atau bank Muamalat, dengan saldo minimal 20 juta. Lalu tanda bukti pembukaan rekening tersebut harus dibawa ke Departemen Agama setempat sembari menyerahkan formulir dari bank dan foto; ini untuk mengetahui apa kita bisa masuk dalam kuota orang yang berangkat tahun depan atau harus menunggu-istilahnya nomor ’seat’ (nomor kursi kali ya). Setelah dapat nomor, kita harus kembali lagi ke bank untuk memberi tahu nomor yang kita dapat dan mem-booking tempat. Lalu kita baru memilih KBIH, dan sebulan atau dua bulan sebelum berangkat melunasi pembayaran (karena pembayaran untuk naik haji itu nilainya fluktuatif-bisa naik bisa turun).
Eh, kok malah jadi nulis ngalor-ngidul, haha.
Sebenarnya hal yang mengganggu pikiran saya adalah ‘Kenapa sih naik haji dianggap luar biasa sebegitu pentingnya?’
Orangtua saya memang bukan seperti orangtua kebanyakan. Mereka santai saja berdiskusi soal hubungan saya dan Pumpkin yang beda agama-dan bukannya serta merta melarang saya berhubungan atau memingit saya lalu menjodohkan dengan lelaki se-agama misalnya. Sehingga bagi mereka keputusan naik haji ini bukan keputusan semalam yang begitu menganggap dirinya mampu langsung mendaftar naik haji.
‘Banyak pertimbangannya,’ kata Babeh. Ya, salah satunya, mereka baru mau berangkat kalau saya dan adik saya sudah tidak ’sinyo’ lagi, haha. Dengan kata lain, untuk mereka naik haji bukan hal maha penting yang jika tidak dijalani akan memasukan mereka ke golongan orang kafir; karena selain mereka memang harus ‘mampu’ untuk berhaji, anak-anak mereka pun harus ‘mampu’ ditinggal sendiri untuk beberapa lama. Banyak pertimbangannya.
Karena itu saya benar-benar tidak mengerti sama orang-orang yang berpikiran ‘naik haji adalah segalanya’.
Jadi, seperti biasa, hari ini ada seseorang-sebut saja Mr. C-yang berasal dari suatu pesantren datang meminta sumbangan ke Babeh. Dalam satu bulan beliau bisa datang tiga-empat kali, bahkan lebih.
“Bu, emang pesantren nggak punya usaha sendiri apa gitu ya. Kok malah minta sumbangan melulu..”
“Yah, tergantung pesantren-nya. Ada yang bisa, ada yang nggak. Lagipula, kata si Mr. C dan Mr. lain -lain yang suka minta sumbangan ke Babeh, biasanya kalau pesantren mereka punya uang dipakai naik haji dulu. Itu lho, kemarin kan Babeh cerita kalau mereka punya daftar mau menaikan haji siapa tahun ini. Jadi akhirnya untuk biaya listrik, kawinan anaknya, genteng bocor, kurang beras, ya terpaksa minta-minta.”
Saya pun terdiam; sungguh nggak habis pikir, apa sih yang ada di otak orang-orang itu? (selain bikin negara Islam, memusnahkan Amerika dan antek-anteknya, bikin daftar orang yang dianggap menjelekkan Islam dan harus dibunuh, serta mau meledakkan bom dimana hari ini).
Dan, kenapa sih naik haji sebegitu pentingnya?

kalau secara objektif sih… haji membuat arab saudi terus bisa mendapatkan keuntungan dengan menganggap itu ritual suci. kalau haji ngga dianggap penting lagi kan gawat buat perekonomian arab saudi. itu pendapat gw dari sudut hegemoni intelektual-nya gramsci.
Calvin Michel Sidjaja
December 21, 2008 at 6:08 am
ngomong2 ga banget deh, naik haji ini bukannya lahan basah buat departmen agama ya?
Calvin Michel Sidjaja
December 21, 2008 at 6:09 am
disamping yg namanya haji itu bisa memakmurkan&[insya allah]memabrurkan yg berkepentingan dan lain2 sebagainyaa…
kangen pengen kesana…
*semoga diridhoi&diberi rejeki…amin.*
aie ngintip-ngintip
December 22, 2008 at 3:56 am
ummm….
nitip doa dan ole2 ah nanti……
kenita
December 22, 2008 at 3:45 pm
simply said, Islam consist of five pillars..
and hajj, is one of those pillars.
jadi,, begitulah.
untuk menyempurnakan ‘bangunan’ itulah, haji ada.
tejo
December 24, 2008 at 1:17 pm
calvin: iyah, katanya departemen agama termasuk departemen yang paling tinggi tingkat korupsinya. weleh weleh weleh.
aie + ojet: hmm..i still don’t get it why those people do what they do. it’s an absurd thing for me. doesn’t make any sense.
kenita: haha, sip. do’a apa ni noth? ;p
hapsarisekaradi
December 24, 2008 at 2:14 pm
Setuju banget ama ojet. Orang sering “bermain” dalam therma “mampu” bagi yang berangkat dan “mampu” bagi keluarga yang ditinggalkan. Ujung ujungnya trus bilang “belum dpt panggilan”. Smoga Babe & Ibu tahun ini bisa berangkat.
Klo mau cari “hikmah” yg lebih dalam bisa baca Ali Syari’ati.
hanikoen
December 27, 2008 at 9:33 am
bukannya lebih banyak orang yang ‘memampukan diri’ tapi sebenarnya belum mampu? sia-sia dan nggak lebih dari gelar di depan nama.
hapsarisekaradi
December 28, 2008 at 1:27 pm