Archive for May 2008
cerita dari lapangan
* Posting-an ini dibuat untuk menindaklanjuti janji yang ini.
Bagi mereka yang rajin menonton televisi dan membaca koran pasti tahu tentang berita ‘rusuhnya’ suporter yang kecewa karena tidak mendapatkan tiket.
Pada awalnya saya sempat berpikir, “Ya elah. Lebay semua…”
Tapi setelah kejadian ini dialami oleh my dearest dearest friend (bahasa Jeng Tephy) a.k.a. Neng Ririn, saya jadi malah ikut emosi dan mengerti. *dan harap dicatat, berhubung saya dan teman-teman lain nggak bisa bolos kerja, si Neng ini dengan tekad bulat menjalani semua siksaan dan cobaan dalam mendapatkan tiket: SENDIRIAN!!
***
Si Neng mengawali paginya dengan mengantri di Ibu Dibyo sejak pukul 7.30 pagi!
Ternyata eh ternyata, banyak orang yang mengantri jauuuhhh lebih pagi. Sehingga ketika ia tiba di lokasi, antrian tersebut panjangnya sudah mencapai gedung ketiga di sebelah rumah Ibu Dibyo. Gilanya lagi, hanya tersedia 300 tiket dan setiap orang hanya diperbolehkan membeli dua tiket saja. Karena itu akhirnya dia memutuskan untuk mengantri di Istora Senayan, dengan asumsi tiket yang tersedia pasti lebih banyak.
Eh, begitu sampai Istora keadaan sudah cukup ramai [lihat gambar di bawah]. Si Neng dengan tinggi badan yang hanya 155 cm [yah, saya lebih tinggi sedikit, 155.5-156 lah, hehe] akhirnya harus merelakan diri berada di bawah ketiak bapak-bapak/mas-mas yang juga mengantri.
Suasana kemudian mulai memanas karena panitia tidak kunjung membuka loket. Ditambah lagi wartawan [ehm, maaf ya untuk yang merasa ngeliput] dan polisi yang lalu lalang justru menambah rasa jengkel.
Beberapa teman wartawan ketika mengambil gambar atau sekedar lewat *mungkin bercanda* mengatakan, “Udahlah, nggak usah ngantri. Pasti nggak dapat, nggak.”
Dan bapak penjaga keamanan, pelindung rakyat, dan penegak keadilan dengan angkuhnya lewat diantara kerumunan orang dengan menggunakan truk polisi! “Padahal mereka bisa ngambil jalan muter, Sar,” kata si Neng dengan nada yang masih jengkel.
Karena itu wajar saja jika banyak yang melemparkan botol ke arah truk tersebut, “Iihh, semoga botol aqua gw kena kepalanya…” begitu do’a yang dipanjatkan si Neng. “Eh, kayaknya kena deh,” katanya lagi.
Kekesalan kemudian semakin menjadi ketika para panita oon baru membuka loket pukul 11.30-padahal sebelumnya mereka berkata akan membuka loket pukul 10.00.
Parahnya, loket tersebut hanya dibuka selama 15 menit.
Setelah itu, tiba-tiba ada salah seorang panitia yang keluar dengan memasang tulisan di bawah ini. *”Soalnya dia make baju dan tanda official yang dikalungin itu, Sar..” jelas si Neng ketika saya bertanya apa dia yakin itu memang benar panitia. Mau dibawa kemana Indonesia?
Lalu, karena sudah yakin nggak mungkin dapat tiket walau mengantri sampai sore, kami [saya dari kantor] menghubungi salah seorang calo yang bernama Pak W, “Satu tiket harganya dua ratus ribu. Itu juga udah murah. Anak buah saya susah dapatnya.” [Halah, bukannya kalian dibantu orang dalam ya?]
Untungnya Defa menelfon dan berkata, “Gw dapet tiketnya. Dari temennya nyokap gw. Seratus ribu tapi harganya. Gimana ni?”
Tentu saja kami berkata ya-dengan tambahan delivery service ke kantor lagi, hehe.
Hmm, saya kira si Bapak yang mengantarkan tiket adalah Raja Calo dengan tampang sangar dan baju kumelnya. Nggak tahunya wangi dan rapiiiihhh sekali. Kayaknya sih pegawai negeri. Saya pun usil bertanya, “Dapat darimana Pak tiketnya? Tadi teman saya ngantri dari pagi aja nggak dapet.” Dan sungguh jawabannya sangat mengejutkan,
“Ini sebenarnya jatah tiketnya A [dia menyebut nama mantan pemain bulutangkis yang sangat saya kagumi karena kegantengannya]. Tapi sama dia disuruh jual. Saya cuma pesuruh. Memang B [dia menyebut nama salah satu stasiun tv] jago banget pendistribusian tiketnya.” *Maksudnya jago karena nggak semua orang bisa dapat tiket jadi bisa dijual mahal dan dapat untung ya?? Halah, halah halah halah… udah ah, saya speechless. Yang penting dapat tiketnya…hhhh.
Pulang kantor, kami pun langsung menuju tempat pertandingan. Dari yang diawali dengan semangat’45. Lalu mulai kelaparan-dan malah makan Bakmie GM di tengah-tengah jalannya pertandingan. Sampai akhirnya kecewa karena Indonesia kalah, hiks.
Eh, untung bisa sedikit terobati dengan berfoto-foto ria, hehehehehehe.
***
ps. Terimakasih banyak untuk Neng Rien untuk semua waktu, usaha, foto, dan ceritanya




