Archive for April 2008
Rama, masih haruskah kau bertanya?
Jadi begini ceritanya, seorang kawan-yang sudah lama tidak berjumpa-protes. Katanya blog saya di FS tidak bisa dibuka [masa sih?]. Padahal dia mau membaca tulisan saya yang ini [saya lupa bertanya kenapa]. Walaupun postingan ini mengingatkan saya pada luka lama, hehe. Tapi tak baik menolak permintaan seorang teman lama. Jadi ya sudah, saya post ulang ke sini saja ya…
***
Ketika Anoman membawa kabar bahwa Sinta baik-baik saja dan cincin pusaka telah memberi bukti betapa ia masih sangat mencintai Paduka, mengapa Paduka masih harus banyak bertanya?
Bahkan Laksmana pun tak segan menegur Paduka yang terlihat meragu. “…Tidakkah keraguanmu sebenarnya adalah kerinduanmu akan apa yang tak kau miliki sendiri?” (1) begitu tegurnya.
Ah Laksmana, betapa saya berharap kamu salah kali ini, tidak mungkin seorang titisan Batara Wisnu meragu.
Tapi manusia memang hanya bisa berharap. Siapapun tahu Paduka selalu meragu. Dan saya pun lalu jadi ragu. Coba katakan, adakah cinta Paduka benar adanya? Jika Sangkuriang harus membendung sungai atau membangun candi untuk membuktikan cinta murninya pada Dayang Sumbi (2), maka mengapa Sinta yang harus menderita dan membuktikan cinta murninya pada Paduka?
Atau jangan-jangan pada zaman Paduka telah dikenal istilah persamaan gender, dimana wanita dan pria setara kedudukannya? Sehingga tidaklah menjadi masalah siapa yang harus membuktikan cinta pada siapa. Itu jadi tidak penting lagi.
Saya jadi teringat perkataan Anoman di bukit Maliawan kala itu, “…hati lelaki memang lemah bila ia harus hidup dalam kerinduan, ia bagaikan bulan yang selalu ingin berdandan dalam keindahan, padahal malam sedang menjadi siang tanpa keindahan. Paduka, mungkinkah sebenarnya lelaki itu tidak tabah menderita seperti wanita?” (3)
Jika begitu keadaannya, maka saya memang tidak seharusnya bertanya. Mungkin cinta Paduka benar adanya. Hanya saja Paduka tidak tahan menderita. Sehingga harus Sinta yang maju ke muka. Itu saja.
Tapi Paduka, maaf jika saya penasaran dan masih saja ingin bertanya. Tidakkah api yang membakar Sinta sudah cukup membuktikan cintanya pada Paduka? Apa lagi yang Paduka mau? Adakah yang lebih berarti daripada Sinta yang setia menunggu?
Duhai Paduka yang mulia, jika pada akhirnya Paduka tetap meragu, maka sia-sia saja Sinta menderita. Karena bagi Paduka semua itu tidak ada artinya, bukan?
Aduh biyung, bukannya saya usil. Saya hanya ingin tahu, “Rama, masih haruskah kau bertanya?” ***
(1) dan (3) dari buku ‘Anak Bajang Menggiring Angin’ oleh Sindhunata.
(2) dari buku ‘Calon Arang: Kisah Perempuan Korban Patriarki’ oleh Toeti Heraty.
